Aku bertemu Samson sejatiJam baru menunjukkan pukul 14.30 dan aku dalam perjalanan pulang ke rumah. Kerjaku memang hanya setengah hari. Sebagai editor di kantor relasi publik atau kerennya PR alias public relations, aku memang hanya bekerja separuh waktu. Sisa waktu lainnya kupakai buat cari kerja 'feelance' seperti menulis naskah untuk iklan atau company profile. Atau kalau tidak ada, aku bersegera pulang untuk menikmati waktu bersama Layla. Putri kecilku yang baru berusia 20 bulan.
Hari ini panas sekali. Di tengah sesekali kemacetan aku mendengarkan musik. Sambil sesekali mengumpat kecil kepada pengendara motor di luar. “Dasar, otak udang!” desisku pada seorang pengendara motor yang seenaknya memotong jalur di depanku dari jalur tengah untuk berbelok ke kanan. Kalau tidak kurem Jazz-ku, bisa jadi daging giling dia!Hari ini memang bukan hariku.
Menjelang putaran balik ke arah Tanjung Barat, lalu lintas melambat dan akhirnya merayap lambat sekali. 'Mood'ku langsung anjlok beberapa derajat. Mulutku mulai merutuki pemda, walikota, DLLAJR, polisi, dan semua yang tersangkut dalam penyelenggaraan lalulintas. Sambil tanganku mulai menjambaki rambut yang gerah kepanasan meski AC mobil kupasang di tingkat ‘HIGH’.
Di tengah alunan lagu populer Samsons bercampur kesal serta dongkol, aku melihat suatu pemandangan menarik di depan mobilku. Pemandangan yang akhirnya menjadi salah satu momen terindah yang pernah kulihat di jalan raya.Dua orang ibu-ibu, lebih tepatnya pedagang sayur, tengah bergurau dengan akrab di antara tumpukan sayur di bak terbuka sebuah mobil pick-up tanpa atap tepat di depan mobilku.
Seorang dari mereka asyik mengupas bawang putih. Di balik samar kelelahan, wajah keduanya tampak memancarkan kebahagiaan. Matahari yang baru tergelincir jelas masih terasa menyengat di kulit. Namun sepertinya itu bukan halangan untuk saling melontarkan cerita cerita jenaka yang sesekali membuat keduanya tertawa terbahak-bahak.Mataku seperti terbuka.
Aku melihat kebahagiaan yang tulus di antara mereka. Kebahagiaan di tengah himpitan hidup yang pastinya jauh lebih berat dari semua ‘persoalan’ yang tengah aku rasakan saat itu. Betapa kuatnya kedua wanita itu. Di antara ratusan kilo sayur yang harus mereka angkut, ongkos yang harus mereka hemat, recehan yang harus kumpulkan dan berbagai beban yang harus mereka pecahkan setiap hari, mereka masih bisa mengecap kebahagiaan dalam suasana yang buatku mungkin mustahil.
Aku melihat Samson sejati dalam diri wanita-wanita itu. Sosok-sosok dengan tekad sekeras baja yang tetap bisa tersenyum di tengah lecutan kehidupan yang pahit.